SEKILAS INFO
  • 3 detik yang lalu / Untuk menambahkan running text silahkan ke Dashboard > Sekilas Info
WAKTU :

PENDIDIKAN KELUARGA DI ERA PANDEMI

Terbit 13 January 2021 | Oleh : admin | Kategori : Berita

Oleh ZAINAL ANSHARI *)

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman:17).

Pendidikan Bersama Pandemi

Saya melihat dan mencermati, semenjak adanya pandemi covid 19 atau korona, banyak orang tua mengeluh dan merasa kesulitan melaksanakan pendidikan kepada putra-putrinya. Banyak orang tua mengeluh bahkan sampai menangis, karena merasakan kesulitan mendidik putra-putrinya. Mungkin para guru akan berkata kepada setiap orang tua, begitulah susahnya mendidik putra-putri bapak ibu selama ini. Sejatinya, pelaksana pendidikan yang utama dan pertama adalah orang tua, setelah itu, masyarakat dan pendidikan formal.

            Mengintip tradisi pendidikan yang ada, dalam kontek ini, saya ingin berbagi cerita kepada setiap orang tua, bahwa kegiatan pendidikan kepada anak bukanlah semata tugas kognisi yang diamanahkan guru sekolah, lebih dari itu, ada kegiatan pendidikan yang amat sangat penting dalam keluarga, yaitu pendidikan pembiasaan.

Orang tua dapat melatih pembiasaan anak untuk tetap belajar dirumah, misalkan membiasakan anak sholat berjamaah di rumah, membiasakan anak berdoa sebelum dan setelah makan, membiasakan berdoa sebelum dan setelah bangun tidur, membiasakan anak berdoa dalam semua kegiatan. Termasuk orang tua membiasakan diri bercerita kepada anak sebelum tidur. Bisa jadi, orang tua bercerita tentang kisah para nabi, kisah-kisah orang sholeh, atau kisah teman dilingkungan kita bekerja, yang layak diceritakan kepada anak-anak kita. Hal tersebut juga merupakan proses pendidikan.

Medel belajar bercerita, ternyata lebih disukai dan lebih diterima oleh anak. Sebab model belajar dengan bercerita, dapat menggiring perhatian dan pikiran anak-anak. Bisa juga orang tua bercerita tentang kemajuan Indonesia pada abad ke 7 Masehi misalkan, dimana Indonesia waktu itu menjadi rujukan pendidikan di kawasan Asia. Kata Brandes, sebelum Masehi, di Indonesia sudah dikenal namanya wayang, mata uang, ilmu falak, gamelan, irigasi, tatanegara, huruf dan angka, batik dan berbagai kegiatan yang memerlukan ilmu pengetahuan lainnya (Slamet Sutrisno, 2006: 3). Kejayaan dan kemajuan Indonesia ini, dapat kita ceritakan kepada anak-anak, itu juga merupakan proses pendidikan.

Dapat juga, orang tua tampil sebagai guru bagi anak-anak pada lingkungannya masing-masing. Dengan tampilnya orang tua sebagai pendidik dilingkungan, maka akan mengurangi kejenuhan dan kebosanan anak selama belajar dirumah. Misalkan mengumpulkan anak-anak dari 5-10 kepala keluarga, mereka kita kumpulkan, dan orang tua dapat tampil sebagai guru dalam perkumpulan anak-anak tersebut. Memberikan materi cerita atau belajar kelompok pada tugasnya masing-masing anak, setidaknya hal itu akan menjadi solusi belajar pada masa pandemi.

Sebagaimana ditulis oleh Prof. Muhammad Tolchah Hasan (2018), bahwa pendidikan keluarga merupakan institusi pendidikan yang paling tua di muka bumi. Sebelum adanya pendidikan persekolahan, institusi keluarga merupakan persekolahan yang ada bersamaan dengan adanya umat manusia pertama kali (Nabi Adam-Hawa) dimuka bumi. Jika orang tua merasa kesulitan melaksanakan pendidikan dalam keluarga, maka ia memahami bahwa perilaku dan tindakannya selama ini di dalam rumah, belum dimaknai sebagai proses pendidikan. Padahal, setiap gerak gerik orang tua di dalam rumah, adalah proses pendidikan itu sendiri.

Memang, tugas-tugas akademik yang diterima anak dari sekolah, termasuk pendidikan. Tetapi perilaku orang tua di depan anak-anaknya, juga proses pendidikan yang sangat utama dan perlu diperhatikan. Orang tua yang membiasakan diri berdoa dalam setiap pekerjaan, adalah pendidikan. Orang tua yang saling menghargai antara suami-istri adalah pendidikan. Orang tua yang selalu sholat berjamaah dalam keluarga, adalah pendidikan. Seorang suami yang selalu menghargai pekerjaan istri, adalah pendidikan. Seorang istri yang pandai mengelola pendapatan suami, adalah pendidikan.

Saya melihat, ada sebagian orang tua yang tidak terlalu pusing dengan proses pendidikan selama masa pandemi Korona. Mereka beralasan, proses pendidikan persekolahan adalah salah satu syarat mewujudkan anak pandai, cerdas dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dan banyak syarat lain yang harus dipenuhi orang tua. Bagi mereka, selalu menyampaikan situasi-kondisi dan masa depan anak dan tantangannya dihari esok kepada Tuhan, adalah proses pendidikan yang tidak boleh ditinggalkan orang tua.

Orang tua yang sering membaca al-Quran dan membaca buku dirumah, adalah pendidikan. Orang tua yang tangannya tidak pernah melepas tasbih untuk berdzikir kepada Allah, adalah pendidikan. Orang tua yang selalu tersenyum menerima tamu, juga proses pendidikan. Jadi, dalam kontek ini, proses pendidikan dalam keluarga, sebenarnya memiliki makna yang cukup luas. Sehingga pendidikan dalam keluarga, bukan hanya mengerjakan tugas dari sekolah ansih, tapi seluruh aktivitas orang tua di hadapan anak, adalah bernilai pendidikan.

Pandemi korona, dapat dimaknai sebagai momentum melakukan evaluasi, bahwa orang tua adalah pendidik utama dan sejati bagi anak-anaknya. Guru (ustad-ustadzah) di sekolah, pada hakekatnya hanya menunjang tugas orang tua dirumah. Sehingga, orang tua tetap sebagai pendidik dan guru utama, posisinya tidak dapat digantikan oleh siapapun, termasuk tidak bisa digantikan oleh guru di sekolah.

Semua Orang Tua adalah Guru

Ada slogan menarik dilingkungan Yayasan Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember, KH. Muhammad Hasin, sebagai ketua umum menyampaikan, “kita semua adalah guru al-Quran”. Kalimat itu ditujukan kepada semua guru, semua tenaga kependidikan, tenaga kebersihan dan tenaga keamanan serta semua keluarga besar al-Baitul Amien. Dalam hemat saya, Kiai Hasin mengingatkan kepada kita semua, agar kita memiliki kompetensi membaca dan memahami al-Quran. Kenapa kompetensi tersebut tidak hanya ditujukan kepada guru, tapi kepada semua keluarga besar Baitul Amien. Karena saya memaknai, Kiai Hasin ingin mengingatkan bahwa kita semua adalah guru bagi anaknya masing-masing. Di sekolah menjadi guru bagi murid, di rumah menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri.

Oleh karenanya, orang tua yang merasa kesulitan mendidik anak-anaknya di rumah, hendaknya dimaknai sebagai proses pembelajaran yang selama ini telah hilang, karena banyak dilimpahkan kepada guru pada sekolah formal. Situasi yangt demikian harus dimaknai pula, perlunya orang tua terus dan selalu belajar dan mengajar di dalam lingkungan keluarga. Sehingga kita tidak menjadi orang tua yang gampang menyalahkan guru, apalagi dengan mudah menyeret guru pada ranah hukum, karena mendidik anak-anak kita, agar menjadi manusia yang cerdas, adaptif dan respon terhadap perubahan zaman. Semoga kita semua mampu menghidupkan pendidikan keluarga diera pandemi covid 19 ini, amiin.

Dr. ZAINAL ANSHARI, S.Pd.I., M.Pd.I. *) adalah Dosen dan Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN KHAS Jember, Ketua Umum Yayasan AZKA dan BKPRMI Jember

SebelumnyaRELAWAN GERAK CEPAT BANJIR BANGSALSARI SesudahnyaBISAKAH KABUPATEN JEMBER BERHASIL MENANGGULANGI BANJIR?

Berita Lainnya

0 Komentar